Di tengah ketatnya persaingan ekonomi global, negara-negara di dunia kini tidak lagi sekedar mengandalkan promosi pariwisata atau kemudahan birokrasi konvensional untuk menarik perhatian dunia luar. Sebaliknya, mereka mulai menggunakan instrumen yang jauh lebih proaktif dan memikat, yaitu kebijakan perpajakan. Dua raksasa ekonomi, Turki dan Cina, baru-baru ini meluncurkan gebrakan radikal yang membuktikan betapa “galak” sekaligus manisnya sebuah insentif pajak jika digunakan untuk merayu uang asing.
Menariknya, kedua negara ini mengambil jalur yang sangat kontras. Turki memilih untuk menggelar karpet merah bagi para miliarder dan pelaku usaha berskala besar, sementara Cina lebih memilih untuk memanjakan isi dompet para pelancong internasional.
Turki Beri Rayuan Maut Bebas Pajak 20 Tahun bagi Para Investor
Langkah pertama datang dari Mediterania, di mana Pemerintah Turki baru saja mengesahkan undang-undang insentif fiskal yang sangat berani pada 24 Mei 2026. Kebijakan yang digagas oleh Presiden Recep Tayyip Erdoğan bersama Menteri Keuangan Mehmet Şimşek ini secara spesifik membidik modal asing yang tengah mencari tempat aman, terutama dari kawasan Teluk yang sedang dibayangi konflik.
Tidak tanggung-tanggung, Turki menawarkan fasilitas tax holiday atau pembebasan pajak hingga 20 tahun penuh atas seluruh pendapatan luar negeri dan keuntungan modal bagi warga negara asing yang baru menetap di sana. Syaratnya pun tergolong sederhana, yaitu individu tersebut belum pernah terdaftar sebagai pembayar pajak di Turki dalam tiga tahun terakhir.
Selain memanjakan individu kaya, paket kebijakan ini juga menurunkan tarif PPh Badan bagi perusahaan eksportir dari yang semula 25% menjadi hanya kisaran 9% hingga 14%. Ditambah lagi, perusahaan yang beroperasi di dalam kawasan Istanbul Finance Centre (IFC) berhak menikmati pembebasan pajak hingga 100% untuk aktivitas perdagangan transit, serta mendapatkan potongan tarif pajak warisan hingga menjadi 1% saja. Langkah radikal ini sengaja dirumuskan untuk memperkuat posisi Turki sebagai pusat perantara bisnis internasional yang tak tertandingi.
Cina Manjakan Turis Asing Lewat VAT Refund Instan
Jika Turki memilih untuk menarik investor kelas atas di sektor investasi jangka panjang. Pemerintah Cina justru memilih strategi yang berbeda dengan mempermudah perputaran uang cepat di sektor pariwisata dan ritel. Melalui kebijakan baru yang dirumuskan oleh Kementerian Perdagangan bersama otoritas bea cukai, Cina resmi memperluas layanan pengembalian PPN (VAT refund) bagi wisatawan asing yang akan berlaku efektif mulai 1 Juli 2026.
Belajar dari keluhan para turis yang sering kali malas mengurus pengembalian pajak karena antrean yang mengular di bandara, Cina melakukan perombakan sistem secara total. Pertama, mereka memangkas proses pemeriksaan bea cukai dengan cara menghapus pemeriksaan menyeluruh dan menggantinya dengan sistem pemeriksaan acak (random check) bagi wisatawan yang nilai klaimnya di bawah CHY 10.000.
Kedua, sistem administrasi yang semula rumit kini diubah menjadi sepenuhnya elektronik dan bebas dokumen fisik (paperless). Wisatawan kini bisa langsung menerima pengembalian dana secara instan di toko tempat mereka berbelanja hanya dengan memvalidasi paspor dan kartu kredit, lalu menyelesaikan verifikasi akhir di bandara keberangkatan dalam kurun waktu 28 hari. Selain itu, Cina juga memberikan fleksibilitas luar biasa lewat kebijakan klaim lintas kota, yang memungkinkan turis membeli barang di satu kota dan mencairkan pajaknya di kota lain sebelum mereka terbang pulang.
Gebrakan dari Turki dan Cina ini memberikan pelajaran berharga mengenai fleksibilitas fungsi regulasi perpajakan (regulerend). Pajak tidak lagi sekedar menjadi alat untuk mengisi kas negara, melainkan telah bertransformasi menjadi strategi pemikat yang sangat dinamis.
Turki membuktikan bahwa pemotongan tarif yang agresif hingga puluhan tahun adalah kunci utama untuk memindahkan pusat kemakmuran dan basis korporasi internasional ke wilayah mereka. Di sisi lain, Cina menunjukkan bahwa digitalisasi dan penyederhanaan birokrasi VAT refund adalah cara paling ampuh untuk merangsang pertumbuhan ekonomi ritel domestik melalui tangan wisatawan asing. Di era di mana sistem perpajakan global bergerak semakin cepat dan kompetitif, negara yang paling jeli memberikan kemudahan barangkali dialah yang akan memenangkan perputaran modal dunia.
Penulis: Amrina Yulfajar & Icha Audy
Editor: Agnes Ade Arsya
Source: Ortax
Image Source: Magnific
#InsentifPajak #TaxHoliday #VATRefund #PajakInternasional #BelajarPajak #InfoPajak2026 #AkuntansiHack #InvestorAsing #DuniaPajak #StrategiBisnis
