Anggaran

Metode 50 30 20 untuk Anggaran Bisnis: Beneran Works atau Cuma Cocok Buat Keuangan Pribadi?

Metode 50 30 20 populer banget untuk mengatur keuangan pribadi. Tapi begitu dibawa ke dunia bisnis, banyak yang bertanya: ini benar benar works, atau justru bikin anggaran jadi menyesatkan?

Jawabannya: bisa dipakai, tapi bukan sebagai rumus saklek. Anggap saja 50 30 20 sebagai kerangka awal supaya Anda punya batasan yang jelas, lalu disesuaikan dengan model bisnis Anda.

Apa itu metode 50 30 20?

Sederhananya, pemasukan dibagi jadi tiga porsi:

  1. 50% kebutuhan utama
  2. 30% pengembangan atau gaya hidup
  3. 20% tabungan atau tujuan finansial

Di bisnis, istilahnya kita ubah supaya lebih relevan.

Versi bisnisnya: 50 30 20 itu jadi apa?

Berikut versi yang paling mudah dipahami untuk UMKM dan bisnis jasa:

  • 50% Biaya operasional wajib

Misalnya bahan baku, gaji tim inti, sewa, listrik, internet, tools kerja, ongkir rutin, biaya produksi.

  • 30% Pengembangan bisnis

Misalnya marketing dan iklan, konten, upgrade alat, training tim, riset produk, sistem, dan biaya ekspansi kecil.

  • 20% Profit dan dana aman

Misalnya laba yang Anda ambil, dana darurat bisnis, cadangan pajak, dan tabungan untuk investasi.

Kalau Anda baru mulai, porsi 20% ini sering terasa berat. Tapi justru ini yang bikin bisnis tidak gampang goyah.

Kapan metode ini beneran works untuk bisnis?

Metode 50 30 20 biasanya cocok kalau:

  1. Bisnis Anda sudah punya pemasukan rutin dan cukup stabil
  2. Struktur biaya tidak terlalu rumit
  3. Anda butuh cara cepat untuk disiplin anggaran
  4. Anda sering bingung bedain uang bisnis dan uang pribadi

Untuk bisnis jasa, metode ini sering lebih mudah diterapkan karena biaya produksinya cenderung lebih ringan dibanding bisnis dagang.

Kapan metode ini kurang cocok?

Metode 50 30 20 bisa kurang pas kalau:

  1. Bisnis Anda musiman atau cashflow naik turun ekstrem
  2. Biaya pokok penjualan besar (misalnya dagang dengan margin tipis)
  3. Anda sedang fase investasi besar (buka cabang, beli mesin, rekrut tim besar)

Di kondisi ini, Anda tetap bisa pakai 50 30 20, tapi perlu versi yang lebih fleksibel.

Cara pakai 50 30 20 tanpa bikin bisnis boncos

Ini langkah praktisnya:

  1. Hitung dari omzet bersih, bukan omzet kotor

Kalau Anda bisnis dagang, pisahkan dulu biaya barang atau bahan. Baru setelah itu bagi porsinya.

  1. Pisahkan rekening bisnis dan pribadi

Ini wajib kalau Anda mau anggaran benar benar kebaca.

  1. Kunci dulu pos 20% untuk pajak dan dana aman

Banyak bisnis terlihat untung, tapi panik saat bayar pajak atau saat ada biaya mendadak.

  1. Review tiap bulan pakai budget vs actual

Anggaran itu bukan sekali bikin lalu ditinggal. Minimal sebulan sekali, cek selisihnya.

Contoh sederhana (biar kebayang)

Persentase ini bukan patokan ideal untuk semua bisnis, tapi alat bantu awal agar struktur anggaran lebih kebaca.

Misal pemasukan bersih bisnis Anda Rp50 juta per bulan.

  • 50% operasional: Rp25 juta
  • 30% pengembangan: Rp15 juta
  • 20% profit dan dana aman: Rp10 juta

Kalau ternyata operasional Anda selalu tembus Rp30 juta, berarti ada dua kemungkinan: biaya memang besar, atau ada kebocoran yang belum kelihatan. Dari sini Anda bisa mulai evaluasi.

Metode 50 30 20 bisa jadi cara cepat untuk merapikan anggaran bisnis, terutama kalau Anda butuh patokan sederhana dan mudah dijalankan. Tapi ingat, kuncinya ada di penyesuaian: lihat struktur biaya, fase bisnis, dan disiplin review tiap bulan.

Kalau Anda mau dibantu menyusun anggaran yang realistis, atau memetakan pos biaya yang sering bikin boncos, Anda bisa konsultasi one on one dengan tim Accounting Hack.

Klik link di bawah ini untuk mulai konsultasi pribadi dan dapatkan solusi, hari ini.

🔗 https://bit.ly/KonsultasiAccHack 

Accounting is Fun, Accounting is Easy!

Penulis: Amrina Yulfajar & Icha Audy
Editor: Agnes Ade Arsya
Image Source: Freepik

Share This :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *